Share this story

Kado perpisahan Barca untuk Enrique: Gelar Copa del Rey ke-3 berturut-turut

barcelona-parting-gift-to-manager-luis-enrique (1)

Pada saat Lionel Messi mencetak gol di menit ke-30, pelatih Barcelona, Luis Enrique, hembuskan nafas lega.
Messi menggiring bola untuk Catalan pada kemenangan 3-1 atas Deportivo Alaves, dan merebut gelar Copa del Rey ketiga berturut-turut, hari Minggu lalu.

Itu pemberian yang layak, atau lebih spesifiknya kado yang layak, untuk Enrique yang masanya sebagai pelatih berakhir dengan sesuatu untuk dikenang.

Enrique sudah mengumumkan bahwa dia akan keluar dari klub bulan Maret lalu.

Itu saat tim Catalan ini gagal memenuhi harapan musim ini, kehilangan gelar La Liga ke rival, Real Madrid, dan tersingkir oleh Juventus di babak perempat final Liga Champions.

Tapi gol pembukaan Messi terbukti sebagai inspirasi bagi Barca, melawan Alaves.

Sejak saat itu, Barca bermain hanya dengan kemenangan untuk pelatih dalam benak mereka, dan Neymar mengembalikan keunggulan mereka di babak ke-45, sesudah Theo Hernandez menyamakan skor untuk Alaves di menit ke-33.

Dan dengan assist dari Messi, Paco Alcacer mencetak gol yang menjadi gol kemenangan di menit ke-48.

Piala Copa del Rey membuat koleksi Enrique menjadi sembilan piala dalam dua tahun memegang kendali, utamanya berkat kekuatan kemampuan Messi untuk memotivasi skuad untuk menang.

Walau Alaves mengecoh Barca 2-1 di laga La Liga mereka di Camp Nou, September lalu, Messi dkk menunjukkan mereka tidak akan menerima hasil yang sama, di laga terakhir yang dimainkan di Stadion Vicente Calderon.

Saat Enrique bersiap-siap untuk berpisah dengan skuad, pengumuman penting akan dibuat hari Selasa tentang siapa pelatih Barca selanjutnya.

Sekarang Barca sudah meraih 29 piala Copa del Rey, lebih enam daripada tim lain. Yang paling mendekati koleksi mereka adalah Atletico Madrid, dengan 23 piala.

Mess, walau tersakiti oleh kekalahan di La Liga dan Liga Champions, menjadi pemain pertama yang mencetak gol di empat final Copa yang berbeda (2017, 2015, 2012, dan 2009) sejak Telmo Zara (1950, 1945, 1944, dan 1943).

Pecah telurnya menjadi gol dari set piece-nya sendiri, langsung ke kiper Alaves, Fernando Pacheco.

Neymar memantulkan tendangan tengah rendah Andre Gomes sepanjang garis yang mengimbangi skor untuk Barca, lalu pengendalian jarak dekat Messi yang menakjubkan membuat celah untuk Alcacer, yang start untuk menggantikan Luis Suarez yang diskors, dan dengan tenang mencetak gol melewati Pacheco.

Neymar sendiri, dia mencatat rekor sendiri dengan menjadi pemain pertama yang mencetak gol di tiga final berturut-turut (2017, 2016, 2015) sejak ikon Real Madrid, Ferenc Puskas (1962, 1961, dan 1960).

Enrique, yang sangat bersyukur, mengucapkan terima kasih kepada para pemainnya, terutama Messi, yang dia sebut “luar biasa dalam semua aspek”.

Dia juga bertutur: “Saya sangat beruntung bisa menikmati versi yang terbaik, salah satu yang terbaik, dari dirinya. Tanpa diragukan lagi dia no. 1, dan untuk menjadi seperti itu, kita harus mengendalikan setiap aspek dan menjadi kuat sekali secara fisik. Dia sempurna dalam menjaga diri, dan masih banyak yang bisa dihasilkan Messi.”

Dan pelatih mana yang tidak bersyukur kalau punya Messi dalam timnya?

Tentu, takkan ada jejak kesedihan pada Enrique, 47, saat dia mengucapkan perpisahan kepada klub.

See Also