Share this story

Madrid coba catat sejarah saat melawan Juve di final LC

real-madrid-manager-zinedine-zidane

Juara bertahan, Real Madrid, bertujuan untuk menjadi tim pertama yang mempertahankan gelar Liga Champions, saat mereka melawan Juventus di Stadion Principality di Cardiff bulan depan.

Juara bertahan ini sudah melewati banyak pertarungan bersejarah sesudah dua kali memenangkan kompetisi premier Eropa ini dalam tiga tahun terakhir, dan menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelarnya akan menjadi tambahan hebat ke prestasi bersejarah yang diraih klub.

Real memenangkan La Decima, kejuaraan Piala Eropa/Liga Champions ke-10 mereka, tahun 2014 lalu, dan meraih pialanya lagi musim lalu, klub Italia, Milan, tim dengan kemenangan terbanyak kedua dalam kompetisi ini, baru memenangkan 7 gelar. Barcelona, rival bebuyutan Real, baru lima.

Biar lebih jelas, sudah ada tim yang berhasil mempertahankan gelar Eropa mereka sebelumnya, tapi belum ada tim yang bisa melakukannya sejak kompetisi di-branding ulang menjadi Liga Champions UEFA. Real Madrid (tentu saja, siapa lagi?) memenangkan lima secara berturut-turut dari tahun 1956 sampai 1960, disusul oleh kemenangan Benfica di tahun 1961 dan 1962. Ajax berhasil meraih hat-trick kejuaraan ini dari tahun 1970 sampai 1973, lalu Bayern Munchen menjuarai tiga musim berikutnya.

Milan menang di tahun 1994 dan lolos ke final tahun 1995, tapi kalah dari Ajax, yang juga bisa mempertahankan gelar mereka di final tahun 1996, tapi kalah dari Juventus. Klub terakhir yang nyaris berhasil mempertahankan gelarnya adalah Manchester United, dengan Cristiano Ronaldo muda (sekarang di Real), di tahun 2008 dan 2009. Mereka mengalahkan Chelsea di final 2008, tapi kalah dari Barcelona di tahun 2009.

ZIDANE PUSING?

Real Madrid telah lolos ke final Liga Champions ketiga dalam empat musim terakhir, dan kini tersisa tiga kemenangan lagi untuk meraih gelar La Liga pertamanya sejak tahun 2012. Mereka mencatat rekor 40 laga tak terkalahkan tahun ini, dan strike Isco membawakan minimal satu gol untuk 61 laga beruntun.

Di barisan depan penyerangan maut mereka adalah Ronaldo, yang mencetak 31 gol dalam 40 laga kompetitif musim ini, termasuk 10 gol di puncak Liga Champions. Hat-trick-nya di leg pertama terhadap Atleti sebenarnya hat-trick keduanya musim ini, karena dia juga mencetak tiga gol ke gawang Bayern Munchen. Bersama Ronaldo di penyerangan adalah Karim Benzema (17 gol), Alvaro Morata (20 gol) dan satu regu pemain terbaik yang secara tergabung terkenal secara mendunia sebagai Galacticos. Mereka melakukan semua ini tanpa mantan pemain termahal, Gareth Bale, yang bermain di 21 pertandingan kompetitif musim ini.

Mereka juga memiliki barisan bek penuh bintang pemain, termasuk veteran Sergio Ramos, rekan Ronaldo, Marcelo, Daniel Carvajal, Nacho, dan sekelompok bek yang cukup bagus untuk start di klub lain tapi hanya menjadi pemain pengganti di tim Madrid.

Namun, pelatih, Zinedine Zidane, meredamkan kabar kekuatan klubnya, dia menyatakan bahwa mereka bukan unggulan dalam pertarungan hebat di Cardiff ini, karena penampilan keseluruhan Juventus tidak bisa disepelekan.
“Real Madrid jelas bukan unggulan,” tutur Zidane, yang pernah bermain dan menjadi bintang bagi Juve dari tahun 1996 sampai 2001.

“Susah sekali untuk mencetak gol ke gawang Juve,” Zidane jelaskan. “Pertahanan bukan satu-satunya kekuatan mereka pula. Mereka juga punya pemain hebat dalam barisan penyerangan.”

PERJALANAN TIGA TAHUN

Bisa dimengerti kalau Zidane berpikir timnya tidak lebih bagus daripada Juventus, karena jagoan Italia ini memang skuad yang lebih mengerikan di Liga Champions musim ini.

Juventus, yang tersisa tiga kemenangan lagi dari menjuarai Serie A keenam berturut-turutnya, masih meratapi kekalahan 1-3 dari Barcelona di final 2015 di Berlin, dan penampilan mereka di Liga Champions musim ini menjadi bukti atas peribahasa lama bahwa binatang buas yang terluka jadi lebih berbahaya saat lebih sengsara.

Mereka gagal untuk bangkit dari kekalahan itu, dan tersingkir di babak 16 besar di musim 2016, tapi kampanye Eropa Juve musim ini tidak kalah fantastis, penampilan balasan yang juga membawa mereka menuju penjuaraan Coppa Italia.
Tim Italia ini tidak terkalahkan di Liga Champions, dan sudah memenangkan 9 dari 12 laga mereka. Mereka menaklukkan tim sepanjang musim ini, dan menjadi klub pertama dalam 10 tahun terakhir yang menundukkan Barcelona dalam dua leg. Mereka kebobolan gol penghiburan dari Kylian Mbappe dari Monaco di semifinal, tapi sebelumnya mereka tidak kebobolan dalam 689 menit Liga Champions.

Barisan bek Juventus terkenal tiada ampun, dan penyerangan mereka kini maut berkat Gonzalo Higuain yang berperforma, yang mencetak dua gol saat bertandang di Stade Louis di Monaco.

Tapi bahkan kiper veteran mereka, Gianluigi Buffon, tahu tugasnya baru setengah selesai. “Kami sudah sampai final, tapi sekarang lolos ke final tidak berarti apa-apa,” kata kiper senior berusia 39 tahun ini.

Max Allegri menginginkan skuadnya untuk berusaha memenangkan semampu mereka, karena tahun seperti ini mungkin sulit untuk diulangi.

“Gigi benar, kami sampai final dan harus coba memenangkannya,” angguk Allegri atas pernyataan Buffon. “Semoga saja ini tahun kemenangan kami. Saya rasa Juventus punya peluang hebat untuk menang.”

See Also